Pengalaman Ibu Burhanudin, Manfaat Hipnoterapi kehidupan dan tumbuh kembang Anak, usia 40 Tahun, Harapan Indah

andrihakim57

Pertama kali saya mendengar istilah hipnoterapi dari mas Andri Hakim, saya bertanya-tanya dalam hati, “hypno kan berhubungan dengan tidur, ilmu apa yang bisa menggali pengetahuan tentang diri sendiri dan memperbaiki diri sendiri dengan cara tidur? Wah… menarik nih…”  Apalagi setelah mas Andri bilang bahwa kita banyak secara tidak sadar memasuki dunia alpha, terhipnotis, sewaktu mengendarai di jalan raya yang panjang, atau menonton film yang sangat menarik atau mencekam. Pada saat itu kan tiba tiba focus kita hanya satu, seakan kita di dalam layar lebar itu, sedang dikejar binatang buas, dsb…. Keadaan dimana fokus kita pindah dari banyak fokus selayaknya sebagian besar waktu kita yang dipenuhi lautan pikiran yang datang silih berganti, ke satu fokus, itulah dunia alpha, dimensi hipnosis.  Wah, saya pikir, gampang dong, kan saya sering terpaku nonton film…..  Yah nggak semudah itu sih, tapi untuk pengetahuan detil hipnosis, teman Praktisi mungkin sudah membaca Materi Pelatihan mas Andri yang pertama.

Bedanya hipnoterapi dengan nonton, adalah sewaktu nonton, penulis atau sutradara lah yang mengisi dunia alpha, dalam hipnoterapi, kita sendiri (atau dibantu therapist) yang merancang isian ke dimensi subconscious.  Karena tertarik sekali, saya mengajak anak perempuan saya yang waktu itu berumur 11 tahun, untuk ikut les private dengan mas Andri yang waktu itu didampingi oleh Ratih, tunangannya yang cantik dan juga asisten handal. Alasan saya mengajak anak adalah saya mulai melihat pergaulan dengan teman temannya di sekolah mengajarkan banyak limitasi di dalam kehidupan akademis, emosi, dan sosialnya.  Banyak bertebaran kata kata diantara mereka sendiri, “wah kita mana bisa seperti Shelley, kita kan agak bego….. jangan main sama Tania, rumahnya jelek, maminya galak banget lagi… menggambar? Nggak usah coba deh, lihat tangan sendiri dong, jempol semua begituuuuuuu…”

Wah, gawat nih, saya berpikir, kalau anak saya percaya banyak yang dilontarkan masyarakat sekolahnya, terutama yang mengajarkan keragu-raguan, merendahkan diri sendiri atau orang lain, dsb, dia tidak bisa tumbuh dengan memaksimalkan potensinya.

Di dalam les, kami banyak menonton video dari Milton Erickson (pakar hipnoterapi di Amerika) sambil belajar teori, dan setiap hari kami dating ke tempat les dengan sangat antusias.  Salah satu bagian les kami adalah melihat aplikasi dari hipnoterapi bukan hanya dalam mengatur emosi atau memperbaiki diri, tapi juga secara fisik. Dengan didampingi dokter medis, mas Andri menghipnotis salah satu staff dan setelah staff terhipnotis dan dalam keadaan relax, beliau menusuk ujung jari mbak tersebut sampai sedikit darah keluar, dan juga di daerah di bawah hidung, dan kami melihat mbak tersebut santai saja. Wah, padahal pasti sakit banget itu.

Dengan begitu, kami melihat apa yang terjadi sewaktu dunia kesadaran dan otak dinon-aktifkan, sehingga otak tidak bisa mengirim signal signal sakit ke urat syaraf, dengan kata lain otak sedang “tidur.”  Sebaliknya, dunia subconscious sedang “aktif”  dan mendengarkan suara penghipnotis yang membimbing mbak itu untuk tetap relax dan nyaman.  “Kok bisa ya, “ kata anak saya.

Sepulang les, kami kebetulan menonton film documentary dari Discovery Channel, tentang keberadaan climbing fish.  Ikan ikan ini mempunyai disc di bawah badan mereka yang bisa membuat mereka “mendaki” tebing curam air terjun. Bergerombolan mereka mendaki tebing curam untuk bertelur di puncak tebing dimana ada air tenang dan telur mereka akan selamat sampai menetas.  Banyak juga yang jatuh dan tewas. Tapi secara kolektif, mereka selalu sukses. Kami berdua sampai geleng geleng kepala, siapa yah yang mengajarkan mereka?

Saya bilang sama anak saya, yang mengagumkan adalah, mereka tidak pernah bertanya pada diri sendiri, bisa gak ya, saya mendaki tebing melawan arus air terjun? Wah nggak mungkin bisa, kan saya cuma ikan… Kami cuma bisa ketawa ketawa sendiri, ya ketawalah kalau sadar bahwa diri sendiri kalah sama ikan…

Menurut orang bijaksana, iman itu bisa memindah gunung, berarti iman itu adalah keyakinan tanpa keragu-raguan, bahwa sesuatu bisa dilakukan. Dalam definisi itu, berarti biarpun tanpa otak rumit seperti yang kita punyai, ikan itu punya iman yang mengagumkan. Kuasa pencipta menanam iman itu dalam bentuk instinct.

Nah, keadaan itu kan mirip sama dunia subconscious yang tidak diributi oleh otak sadar yang penuh dengan limitasi dan keragu-raguan semakin kita dewasa. Anak saya mengaplikasikan hal itu dalam pelajarannya dan berhasil lompat kelas dua kali.  Memang lompat kelas itu hal kecil kalau kita melihat kehidupan secara global, apa bedanya dia masuk college 1 atau 2 tahun dimuka? Nggak ada atau nggak banyak… kan yang lebih penting kedewasaan emosi atau bermasyarakat… Kalau ditanya, kok bisa sih lompat kelas? Anak saya bilang, dia mau belajar kayak ikan, tanpa keragu-raguan…  Dan memang semakin besar, dia semakin sadar bahwa kemampuan dan  iman dia masih dalam proses dini, bahwa apapun dan siapapun yang dia ketemui selalu punya kemampuan lebih yang dia bisa belajar.  Tapi seperti halnya di dalam diri kita semua, dia juga bisa melihat bahwa kuasa pencipta ada dalam diri dia, tidak pernah berhenti mencipta, karena kalau berhenti mencipta, sel tidak regenerasi, mati dong kita…  Dan kalau kita meng-akses dan mengerti creative forces yang ada dalam diri kita dan sekeliling, kita sadar bahwa kita punya kuasa untuk menciptakan untuk kita sendiri, dunia emosi atau apapun yang kita mau memanifestasikan, paling tidak sesuai potensi maksimal. Hal hal ini  sering dibahas dalam literature yang akhir akhir ini popular, seperti “The Secret” nya Rhonda Byrne atau “The Seven Laws of Spiritual Success,” dari Deepak Chopra, juga para motivator seperti Wayne Dyer, Anthony Robbins, Joel Osteen, banyak sekali literature yang membahas makalah ini, sesuai dengan majunya evolusi batin manusia di jaman ini.

Saya senang sekali bahwa saya pernah belajar hipnoterapi dari mas Andri, dan anak saya juga memetik hasilnya dan mengaplikasikan dalam hidup sehari hari.  Yang paling menarik untuk kami adalah dalam menciptakan kesuksesan, kita bisa memilih sendiri dan memaksimalkan bidang kesuksesan yang kita pilih, atau fisik, materi, ataupun spiritual, atau ketiga-tiganya, kalau itu yang anda mau.

Menurut pengertian saya, kesuksesan spiritual itu kalau kita bisa bahagia dan kuat apapun kejadian yang menimpa kita, bersyukur tiap hari atas atapun yang diberikan, rendah hati dan menerima kita sendiri dan orang lain sesuai dengan berbagai macam keadaan mereka. Kan enak kalau kita bisa bahagia dan mengatasi iritasi iritasi yang kadang datang dari berbagai jurusan.  Memang sih tanpa hypnotherapy, power of suggestion itu jalan juga,  perlahan kita bisa mengikis pola pikiran negatif dsb, dengan afirmasi tiap hati, tetapi hypnotherapy itu kita rasakan sebagai jalan pintas, untuk mempercepat rekonstruksi diri kalau itu yang kita tuju.  Terima kasih, teman teman Praktisi, meskipun kita tidak dudup berhadapan, tapi dalam beberapa menit waktu kalian membawa tulisan ini, sepertinya kita saling mengenal dan berdiskusi.

Leave a Reply