Mian, Alumni Wisdom Hypnotherapy Bekasi, Realisasi Ucapan dan Doa orang Tua

AndriHakim99

Semasa akhir di kelas 3 SMP, saya disuruh Bapak menagih uang pinjaman ke orang lain. Biasanya yang menagih adalah Ibu, dikarenakan Ibu saya baru saja operasi hernia jadi harus tinggal di rumah untuk beberapa bulan. Setiap akan menagih uang, Bapak duduk di kursi yang menghadap ke barat kemudian berdoa kepada Tuhan YME supaya dapat berhasil seraya menyebut nama saya, “Kalau Mian disuruh, orangnya dines”. Dalam lingkungan kami, istilah dines bisa diartikan sebagai seorang yang jujur. Kata-kata dines itu masih saya ingat sejak pertama kali diucapkan (kurang lebih 13 tahun yang lalu) oleh Bapak saya—Bapak meninggal dunia pada tahun 1998.

Mungkin ucapan Bapak adalah sebuah doa yang sering pula ucapkan orang lain juga terhadap anaknya. Namun, saya melihat ucapan ini berbeda dengan orang umumnya. Saya pikir ada sebuah substansi dan relasi besar atas ucapan/doa yang tidak hanya saya pegang namun harus dijalani secara menyeluruh melalui sikap, ucapan, dan tindakan yang nyata. Setelah 13 tahun ke depan, yakni sekitar di akhir tahun 2010, saya mengikuti seleksi CPNS di salah satu kementerian besar di Indonesia. Singkat kata saya diterima dengan sempurna, tentunya melalui perjuangan keras dan mengandalkan otak.

Saya baru sadar kalau ucapan Bapak, yakni dines bisa berarti ambigu. Kata tersebut mempunyai dua arti, yakni jujur (orang yang berkelakuan jujur) dan kerja dinas (kerja yang dilakukan atas perintah atasan/orang tua). Jadi, ucapan Bapak saya itu adalah doa supaya saya sukses, yang mungkin ketika itu saya tidak tahu sama sekali akan arti ucapan yang sederhana tersebut.

Tuhan mempunyai rencana besar bagi setiap hambanya. Saya yakin bahwa titipan ucapan almarhum Bapak adalah sebuah pencerahan (enlightenment) dan penemuan kembali (reinventing) jati diri saya, sekaligus upaya meneruskan perjuangannya yang melakukan sesuatu dengan ikhlas dan menjadikannya sebagai sebuah amal ibadah.