Mengajar Hipnoterapi apakah perlu pengalaman menjadi Terapi?

wisdom hypnotherapy 10

Pada saat saya memberikan pelatihan Hipnoterapi, salah satu peseta bertanya “Apakah syarat untuk menjadi trainer hipnoterapi? “

Nah, perrtanyaan tersebut sebenarnya gampang-gampang susah untuk dijawab, terlebih banyak Lembaga Hipnoterapi di Indonesia yang tidak mensyaratkan secara khusus apa saja prasyarat menjadi seseorang yang akan mengajarkan hipnoterapi.

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan pada saat seseorang ingin mempelajari /mengajarkan hipnoterapi :

  1. Tujuan / maksud mengapa seseorang mempelajari hipnoterapi atau mengajarkan hipnoterapi. Apabila konsep ini sudah jelas, maka secara otomatis seseorang yang mengajarkan hipnoterapi kepada orang lain pada intinya berkeinginan untuk memberikan penjelasan dan pemahaman terhadap “teknik Hipnoterapi” kepada masyarakat luas secara tepat dan benar, artinya seni hipnoterapi yang akan diajarkan lebih bersifat “praktis” sesuai dengan “pengalaman” seorang trainer pada saat menemukenali setiap permasalahan klien yang terjadi selama sesi hipnoterapi dilakukan. Namun Jika tujuan dan maksud seseorang memberikan pengajaran hipnoterapi kepada orang lain hanya untuk “segera balik modal” saja,  alias menjadikan hipnoterapi hanya sebagai “barang dagangan”, maka hal tersebut jauh dari semangat dan ruh yang terkandung dalam menyebarkan hipnoterapi sebagai solusi penanganan masalah mental dan emosional seseorang yang memiliki basis empiris atau dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
  2. Orientasi kepada “Manajemen Hipnoterapi” bukan sekedar “jurus Hipnoterapi”. Seringkali seorang trainer hipnoterapi berkeinginan untuk mengkoleksi berbagai macam jurus-jurus hipnoterapi yang siap “dipertunjukkan” pada saat sesi pengajaran dilakukan. Hal ini berdampak kepada peserta/siswa yang mempelajari hipnoterapi, sehingga mereka juga  berlomba-lomba untuk menjadi “pengumpul sertifikat” dari berbagai macam trainer/lembaga yang menawarkan berbagai jurus-jurus rahasia dalam melakukan hipnoterapi kepada orang lain. Padahal esensi hipnoterapi adalah bagaimana menjadi seorang terapi yang mampu untuk melakukan “Manajemen Terapi” dengan mengutamakan “layanan yang berkualitas” mulai dari layanan tempat terapi, kunjungan terapi, administrasi terapi dan bahkan layanan pasca terapi. Ini semua seringkali dilupakan oleh banyak trainer hipnoterapi karena memang tidak semua trainer hipnoterapi memiliki pengalaman atau memiliki tempat khusus dalam menerapkan manajemen layanan hipnoterapi-nya.
  3. Berfokus Kepada Diri Sendiri baru kepada orang lain. Pada saat mempelajari hipnoterapi, kebanyakan peserta pada awalnya berpikir bahwa mereka ingin memperoleh manfaat dengan teknik-teknik dan metode yang ditawarkan dalam pembelajaran hipnoterapi, namun seiring dengan “tingkatan pembelajaran Hipnoterapi” maka lambat laun, Pemikirn awal pembelajaran hipnoterapi secara perlahan-lahan mengalami pergeseran dari ” belajar ” menjadi ” UUD” alias “Ujung-Ujungnya uang” , sehingga fokus utama yaitu untuk meningkatkan kualitas diri bergeser kepada untuk “meningkatkan keuangan diri” (oknum tertentu) . Dan alhasil, para peserta yang baru mempelajari hipnoterapi dalam hitungan “Hari” dapat disulap menjadi seorang “trainer” guna mengejar UUD, tanpa menemukenali terlebih dahulu konsep, seni dan outcome yang diharapkan dari mempelajari hipnoterapi, sehingga bisa jadi seorang hipnoterapi yang sedang stress berusaha untuk memberikan layanan hipnoterapi kepada klien yang sedang depresi atau seorang hipnoterapi yang takut berbicara didepan publik berusaha melakukan fast fobia public speaking.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin mempelajari hipnoterapi sebaiknya mereka mampu berfokus secara internal, mampu untuk berorientasi kapada diri mereka guna meningkatkan kualitas jati diri dan marilah bersama-sama mempelajari hipnoterapi secara tepat dan benar sehingga menjadikan kita semua menjadi bangsa yang cerdas secara jasmani dan rohani.

Salam Hipnoterapi

Andri Hakim