Lingkup Peran Hipnoterapis

Materi Hipnoterapi Wisdom Hypnotherapy

Teknik Hipnoterapi merupakan penggabungan antara berbagai keahlian yang memiliki nilai seni yang tinggi. Dalam hipnoterapi penyembuhan dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan atau gangguan. Sehingga dalam dunia hipnoterapi tidak dikenal adanya “penyakit”. Penyembuhan adalah mengembalikan keadaan sehat sedia kala secara menyeluruh, namun pengobatan adalah menghilangkan penyakit dan seluruh gejala-gejalannya.

Ada perbedaan yang signifikan saat seseorang merasa sakit atau divonis sakit.  Setiap manusia memiliki kemampuan untuk dapat merasakan, termasuk merasakan lelah, letih dan lesu, intinya ada ketidaknyamanan seseorang yang telah dirasakannya, namun terkadang seseorang tidak mau merasakan maksud dan tujuan dari mekanisme tubuh yang seharusnya memperingatinya untuk dapat relaksasi dan beristirahat. Saat tubuh merasakan beban yang tidak mampu lagi ia terima, maka disitulah timbulnya ”sakit”. Hal ini berarti ada sebuah mekanisme yang harus segera dikembalikan ke kondisi semula.

Hipnoterapi bertujuan untuk mengembalikan setiap perubahan negatif menuju kesebuah tataran semula atau keadaan sedia kala. Inilah mengapa dalam setiap sesi hipnoterapi tidak mengenal adanya diagnosa penyakit atapun mengevaluasi penyakit-penyakit yang ada di tubuh klien. Pada saat klien datang ke seorang hipnoterapis untuk menenangkan diri setelah ia baru saja divonis bahwa penyakitnya akan membawa kesebuah tidaknyamanan, maka seorang hipnoterapis tidak diperbolehkan melakukan sebuah diagnosa apapun kecuali hipnoterapis tersebut adalah seorang ahli medis. Ini dikarenakan konsep suatu penyakit dikarenakan adanya sebuah permasalahan dan gangguan yang belum dituntaskan, mekanisme penyembuhan hipnoterapi bekerja pada level pikiran bawah sadar dimana setiap permasalahan ada jalan keluarnya dan setiap ketidak-nyamanan ada solusinya.

Seorang hipnoterapis tidak perlu melakukan sebuah analisa-analisa perkiraan sumber penyebab masalah yang sedang diderita oleh klien. Hal ini dikarenakan setiap permasalahan merupakan akumulasi-akumulasi setiap tindakan dan mekanisme aktivitas klien sehari-hari, yaitu sejak klien kecil hingga dewasa. Oleh karenanya hanya klien dan Tuhan yang mengetahui apa-apa saja yang mengawali sebuah permasalahan yang sedang menjadi bebannya.

Kadangkala seorang pembimbing/konseling melakukan sebuah hipotesa-hipotesa dari sudut pandangnya. Ini merupakan hal yang harus dihindari oleh seorang hipnoterapis. Hipnoterapi menganut konsep ”Client Center Therapy” atau CCT yang berarti bahwa klienlah sebagai pusat informasi yang akan digali atau dieksplorasi oleh hipnoterapis guna mengetahui secara pasti apa saja yang menjadi penyebab setiap permasalahan.

Seorang ahli medis biasanya menvonis pasiennya dengan menggunakan sebuah perintah langsung (Direct Order) yang sebenarnya masih bisa bermanfaat bagi pasiennya agar pasien paham apa yang harus ia “treatment” untuk dirinya. Namun terkadang penggunaan bahasa yang kurang sesuai dengan karakteristik seorang pasien dapat berdampak pada ketidak mampuan pasien dalam menghadapi apa yang sedang menimpa kepada dirinya. Sebagai contoh seseorang pekerja keras yang pergi pagi pulang petang dengan penuh semangat untuk menghidupi istri dan anak-anaknya tiba-tiba divonis mengidap gangguan lever yang mau tidak mau harus menghentikan aktivitas kerjanya hari itu juga.

Dalam kaidah pikiran bawah sadar terdapat tiga permasalahan yang sedang ia dapatkan saat ia memperoleh vonis dari ahli medis tersebut yaitu :

1.      Kekhawatiran masa depan terhadap kondisi dirinya

Saat seseorang memperoleh sebuah informasi negatif terhadap dirinya, maka yang muncul adalah persepsi negatif dari pikiran bawah sadar yang mengindikasikan sebuah ancaman dan ketidak nyamanan dalam kehidupan orang tersebut. Terlebih lagi jika persepsi tersebut tidak segera dibingkai dalam kebijaksanaan ( Wisdom Reframing) maka menimbulkan dampak negatif yang sangat berpengaruh kepada fisik dari orang tersebut.

Seringkali seseorang yang divonis sakit oleh seorang ahli medis tanpa adanya Wisdom Reframing cenderung dapat memperparah sakit yang sedang ia derita. Timbulnya rasa kekhawatiran terhadap dirinya dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan merubah mekanisme tubuh seseorang menjadi sakit.

Untuk itulah komunikasi yang dilakukan oleh seorang ahli medis kepada pasiennya harus dibarengi dengan kemampuan untuk menghantarkan sebuah sugesti motivasi kepada pikiran bawah sadar pasien (Subconscious Communication) yang dapat meningkatkan mental emosional pasien secara tepat dan benar.

2.      Kekhawatiran masa depan terhadap kondisi keluarganya

Sebagai makhluk sosial kita dihadapkan oleh kondisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Hubungan manusia dengan sesama sama eratnya dengan hubungan manusia dengan Tuhannya. Hukum alam inilah yang membuat seseorang memiliki kewajiban secara otomatis terhadap keluarganya. Saat seseorang secara tiba-tiba kehilangan masa depannya dalam hal ini karena alasan kesehatan, maka ia memiliki sebuah beban baik secara jasmaniah yang tetap harus ia tanggung apapun kondisinya. Beban yang berkepanjangan tanpa ada sebuah solusi untuk meringankannya dapat menghantui setiap orang

3.      Ketidak mampuan seseorang untuk menerima sebuah kondisi.         

Sesuatu yang diharapkan seringkali berbeda jauh dengan realitas yang terjadi. Bagi seseorang yang memiliki karakteristik sebagai ”Risk Taker” atau pengambil resiko yang mana suatu saat harapannya tidak sesuai dengan kenyataannya, maka hal  tersebut adalah bagian resiko yang telah diperhitungkan. Orang yang termasuk dalam kategori ”Risk Taker ”biasa mampu mengatasi sebuah kekecewaan dan bahkan kekecewaan tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk melangkah lebih maju.

Namun jika orang tersebut merupakan kategori ” Risk Averse” atau penghindar resiko, maka kejadian dimana harapan sangat berbeda jauh dengan kenyataan menimbulkan sebuah konflik diri dan menurunkan semangat diri untuk maju. Orang yang memiliki tipe ”Risk Averse” seringkali sangat tertekan dan putus harapan manakala apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan atau realitas.

Saat seseorang secara tiba-tiba divonis menderita penyakit tertentu, maka bagi Tipe Risk Averse hal tersebut bagaikan sambaran petir di siang bolong, inilah mengapa sebuah informasi penting dapat berdampak sangat negatif terhadap si penerima informasi.

oleh karena itu peran ilmu hipnoterapi menjadi penting untuk setiap orang dalam melakukan preventif terhadap kondisi yang dijalaninya, disisi lain seorang hipnoterapis juga perlu ekstra hati-hati dalam menjaga setiap kata-katanya karena sangat berdampak kepada bawah sadar seseorang.

sumber : andri hakim, buku hipnoterapi, 2008