Kunci Sukses Komunikasi “Bawah Sadar” Orang Tua Kepada Anak

www.wisdomhypnotherapy.com – Dewasa ini banyak sekali berita yang menceritakan bagaimana kelakuan anak-anak zaman sekarang yang sudah tidak lagi memperdulikan penghormatan kedua orang tuanya. Bagi mereka, urusan anak bukanlah urusan orang tua dan sebaliknya. Proses tumbuh kembang anak sudah tidak terkendalikan lagi. Pergaulan bebas, tawuran,  telah marak di usia dini, pemakaian obat-obat terlarang, kaidah-kaidah moral sudah tidak di perdulikan lagi oleh anak-anak. Namun di sisi lain, anak-anak merupakan penerus generasi bangsa, yang jika tidak dibina dan dipupuk sejak dini maka dapat diprediksi kemana nasibnya bangsa kita kedepan.

Tayangan televisi yang mengangkat kisah reality terkesan memberikan pembelajaran “buruk” kepada pemirsanya. Hal ini dikarenakan banyak tayangan-tayangan yang mempertontonkan perbuatan “kurang ajar” kepada orang tuanya, segala bentuk “makian”, “bentakan” dan “kata-kata kotor” sudah menjadi hal biasa yang diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Padahal jelas-jelas di dalam pendidikan Agama, hal tersebut telah bertentangan dan termasuk dalam perbuatan yang “dilarang oleh Allah SWT.

Proses membentengi anak dengan menghindari berbagai tayangan televisi yang merajalela, belum lagi tayangan film, sinetron dll baik di televise, layar lebar atau berupa DVD, VCD, internet, dll membutuhkan kerja ekstra bagi setiap orang tua untuk memfilter mana saja tayangan yang sebaiknya ditonton oleh anak-anaknya.

Buku-buku yang mengajarkan buruknya moralitas anak kepada orang tua juga mudah diperoleh di berbagai took buku dan hal tersebut tidak dapat lagi dibendung dengan berbagai tuntutan, cekalan atau keberatan seseorang terhadap setiap tayangan, informasi yang dianggap menurunkan moral anak bangsa tersebut.

Seorang anak bebas menonton setiap tayangan televisi “hampir setiap hari” tanpa adanya proses pendampingan kedua orang tuanya. Nasehat orang tua sudah tidak lagi “digubris” sebagai nasehat moral kepada anak-anaknya. Bahkan sikap, tingkah-laku dan kepribadian kedua orang tuanya sudah tidak dapat dijadikan panutan/suri tauladan bagi anak-anaknya. Pikiran, tindakan dan sikap orang tua kadang bertentangan dengan anak-anaknya.

Namun semua itu sebenarnya dapat disikapi secara bijaksana. Proses tumbuh kembang anak merupakan kolaborasi antara kedua orang tuanya dengan anak-anaknya, dan kolaborasi tersebut dapat dimulai sejak anak masih berusia 0 tahun. Masa inilah merupakan ” pondasi” bagi seorang anak untuk membekali dirinya dalam menyongsong dan menjalani kehidupan dimasa depannya. Proses pembelajaran ” etika”, ”Value/Nilai”, ”kepribadian”, dan ”sikap” perlu ditanamkan sedini mungkin, agar mereka benar-benar menjadi sosok penerus bangsa yang berperilaku dan berkepribadian luhur seperti apa yang diamanatkan oleh para pejuang negeri tercinta ini.

Masa Keemasan Anak

Anak-anak seringkali mengalami beberapa kelemahan dalam menangkap sebuah ide, informasi, perintah dan nasehat yang akan ia serap dan lakukan. Namun sebenarnya kemampuan menyerap segala informasi anak, sangatlah “ luar Biasa”. Hal inilah yang seringkali terlewatkan oleh para orang tua yang melupakan “masa-masa keemasan” anak.

Gland Doman dalam bukunya “ How to teach Baby To Read”, Bagaimana mengajarkan Bayi Anda membaca, menjelaskan bahwa saat usia anak berkisar 0 – 6 tahun anak memiliki kemampuan menyerap informasi yang luar biasa dan masa inilah masa yang paling sempurna untuk mulai dilakukan proses pembelajaran. Namun secara realitas, seringkali orang tua masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Apalagi saat anak-anak masih kecil, orang tua (ibu dan bapaknya) masih mengejar “karir dan jabatan”, sampai-sampai menomor duakan anak. Padahal saat-saat usia 0-6 tahun tersebut, anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dalam bentuk pelukan, sapaan, ciuman, dll .

Coba Anda bayangkan, bagaimana seorang anak yang menginginkan ciuman dari ke dua orang tuanya, setelah seharian penuh bermain dengan pengasuh/baby sitternya dan kemudian menanti-nantikan kedatangan kedua orang tuanya yang pulang dari aktivitas kerjanya di saat sore hari menjelang malam. Namun alangkah kecewanya hati sang anak, saat orang tuanya pulang ke rumah dengan kondisi lelah dan segera ingin beristirahat, Keinginan anak untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya dengan berusaha mengajak bermain, disapa, dibelai atau dipeluk ibu dan bapaknya tidak sempat ia peroleh sama sekali. Terlebih lagi, hampir setiap hari kejadian tersebut berulang-ulang.

Sebuah hal yang wajar apabila disaat besar nanti, saat orang tua telah memperoleh karir dan jabatan yang tinggi, serta memiliki penghasilan besar, maka orang tua berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya, atau dalam istilah singkatnya “ mau bayar utang kasih sayangnya kepada anak yang tidak terbayar saat anaknya kecil”. Namun sang anak sudah terlanjur memiliki memori negatif di pikiran bawah sadarnya. Terlebih lagi, kadangkala didikan Baby Sitter yang terkadang memiliki “pengaruh kurang baik” terhadap tumbuh kembang anak, membuat anak sulit diajak komunikasi oleh kedua orang tuanya.

Saat usia anak di atas 6 tahun, saat kedua orang tua ingin memeluk dan mencium, maka jangan heran jika sang anak sudah tidak mau lagi menerima bentuk kasih sayang seperti saat ia pernah jadi “dede kecil”. Di saat Usia 6 tahun keatas, “perasaan malu” anak mulai timbul, dan jika ia masih diperlakukan seperti anak batita yang “digandeng-gandeng” oleh orang tuanya apalagi “dicium pipinya” di depan umum dapat dipastikan ia pasti berusaha memalingkan perlakukan orang tuanya tersebut.

Namun, jika sekarang Anda termasuk dalam kategori kejadian diatas, maka sebagai orang tua, Anda memerlukan kerja ekstra keras untuk melakukan ”komunikasi bawah sadar” yang harus Anda mulai dari sekarang.  Namun perlu dijadikan catatan bahwa, sikap acuh, memanjakan tanpa kasih sayang, egois, emosional perlu dihilangkan dalam hidup anda. Orang tua harus dapat menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya.

Semoga tulisan ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi Anda sebagai orang tua, untuk mulai membina hubungan yang harmonis kepada anak-anaknya.

Mengenal Komunikasi Bawah Sadar ( Subconscious Communication) Anak.

Komunikasi Pikiran Bawah Sadar sebenarnya mencoba untuk memberikan informasi positif kepada anak, agar anak dapat memahami maksud dan keinginan orang tuanya dan sebaliknya anak mampu menyerap sempurna setiap informasi yang berkualitas dari kedua orang tuanya.

Komunikasi merupakan kunci sukses hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya. Bentuk kasih sayang seperti pelukan, ciuman, sentuhan, dll merupakan bentuk komunikasi dari ”pikiran bawah sadar” yang perlu dipupuk dan dilatih kepada anak sejak anak usia dini. Sehingga sampai kapanpun komunikasi ”kasih sayang” (compassionate Communication) dari ke-dua orang tua kepada anak-anaknya dapat terus berlangsung, tanpa anak merasa malu, terganggu, dll

Sebuah bentuk komunikasi ” bawah sadar” harus memperhatikan faktor-faktor seperti :

Easy to Understand.

  • Ringkas atau rumitnya sebuah informasi yang akan diinformasikan dari orang tuanya ke anak-anaknya, merupakan slah satu kunci sukses yang harus dipahami oleh orang tua.
  • Bahasa memegang peranan penting saat sebuah komunikasi diperlukan. Namun, body language (bahasa tubuh) juga mendukung terciptanya komunikasi harmonis antara orang tua dengan anaknya. Oleh karena itu, anda perlu membiasakan diri untuk menyelaraskan antara bahasa yang digunakan dengan body language. Jadi rumusannya adalah [Komunikasi = Ucapan + Bahasa Tubuh]. Sebagai contoh, saat anda mengatakan ” Dede Sayang, Mama Sayang banget sama dede Sayang” maka ingat bahwa saat Anda mengucapkan kata sayang, maka senyuman, gerak dan raut wajah Anda harus mendukung apa yang sedang Anda ucapkan. Apabila antara ucapan dengan bahasa tubuh Anda tidak ada kesinkronan, seorang anak melakukan ”tebakan-tebakan perasaan”, dan jika itu terus menerus terjadi, maka seorang anak tanpa ia sadari memberikan label-label khusus kepada orang tuanya seperti menganggap orang tuanya ” pembohong”, ”pura-pura sayang”, ”mau menangnya sendiri” dll. Oleh karena itu, pastikan maksud dan tujuan ucapan benar-benar jelas tanpa menimbulkan kesan ganda (Ambiguity).

Interesting (menarik perhatian).

  • Kemenarikan dan keasyikan informasi yang akan diinformasikan dan diterima oleh anak dapat membuat anak mengalihkan perhatiannya ke orang tuanya. Ini merupakan kunci sukses bagaimana terciptanya hubungan harmonis antara seorang ibu/bapak kepada anaknya.
  • Informasi yang ingin disampaikan kepada anak, seperti ” mulai sekarang dede belajar sholat yah” harus benar-benar dapat menarik perhatian di anak. Sebagai contoh, sebagai orang tua menyuruh anaknya belajar sholat, namun tanpa diikuti oleh aktivitas sholat yang sering dilakukan oleh orang tuanya, berdampak pada tidak menjadikan anak untuk melirik atau bahkan mengikuti apa yang Anda suruh. Selain menyuruh anak untuk belajar sholat, anak harus benar-benar dikenalkan dan diberi pemahaman tentang bagaimana kegiatan sholat itu dilakukan.
  • Dengan mangajaknya ke Mushola, Surau, Langgar dan Masjid, serta ikut terlibat dalam situasi sholat tersebut dengan orang tuanya, maka proses pembelajaran sholat menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi seorang anak dan pikiran bawah sadar anak akan secara otomatis terisi oleh indahnya melakukan sholat dan hal tersebut akan terus tertanam hingga usianya dewasa nanti. Dan jangan heran jika saat Anda, menyuruh anak anda sholat hingga dewasa nanti, suruhan tersebut merupakan hal yang masih menarik perhatian mereka.

Pahami Sensitivitas Anak.

  • Sensitivitas anak saat menerima informasi dari orang tuanya harus dijadikan ”sinyal-sinyal” bagi orang tua. Ingat, orang tua harus peka dan memahami kondisi dan situasi yaitu ”saat yang tepat” untuk dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya.
  • Di saat suami istri bertengkar dan saling berargumentasi, sebaiknya hindari prses pertengkaran dan adu argumentasi tersebut di depan anak-anak. Jauhi proses tumbuh kembang anak dengan hal-hal yang dapat membuat sensitivitas anak menjadi tidak stabil. Saat anak melihat pertengkaran hebat orang tua didepan matanya, maka proses perekaman memori bawah sadar anak secara cepat memproses dan menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari hidupnya. Sehingga jangan heran jika nanti dikemudian hari anak tersebut menjadi anak yang sering marah-marah dan berargumen.
  • Saat seorang anak sedang asik-asiknya bermain atau melakukan aktivitas tertentu, orang tua perlu melihat ”timing”/waktu yang tepat untuk berkomunikasi. Semisalnya, saat menyuruh anaknya tidur siang, atau makan siang. Kadangkala orang tua melakukan ”jurus diktator-nya” untuk memaksakan setiap kehendaknya, bahkan kadang melakukan bentuk kekerasan seperti menjewer kuping, mencubit, dll. Ironisnya, bagi orang tua yang sibuk dalam urusan ” cari uang” alias bekerja, persentase waktu mendidik anak lebih dikuasai oleh ”baby sitter” ketimbang orang tuanya. Bayangkan perlakuan ”baby sitter” kepada seorang anak majikannya (yang memang bukan anaknya) dapat diprediksi menggunakan ”pola diktatorisme” alias ” hajar bleh” yang penting ” kerjaan beres” dan inilah awal timbulnya ”emosi negatif anak”.

Information Style.

  • Gaya penyampaian informasi kepada anak perlu diperhatikan apalagi saat anak mulai tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Seringkali orang tua dianggap sebagai sosok yang menakutkan bagi anak. Kemarahan orang tua seperti bentakan, teriakan, dll dianggap sebagai hal yang selalu melekat di pikiran bawah sadar anak dan jika hal tersebut berlangsung lama, maka menjadi bagian hidup anak sepanjang masa.
  • Perlakuan orang tua kepada seorang anak terkadang ”selalu sama” pada setiap masa, seperti ” intonasi bahasa, gaya bahasa, tata bahasan, dll tanpa melihat secara jeli perkembangan kedewasaan anak. Saat anak sudah mulai memasuki usia sekolah, dapat dipastikan pengucapan panggilan kepada anak dengan sebutan ” dede kecil” di depan teman-temannya, bisa berakibat pada timbulnya ”rasa malu” atau ”dipermalukan”. Jika orang tua tidak tanggap terhadap permasalahan ini maka pikiran bawah sadar anak dapat melakukan ” sabotase” alias berusaha ingin mempermalukan orang tuanya dikemudian hari nanti.

Using Multisensory Technique.

  • Saat anak mulai memahami bentuk komunikasi sederhana, maka saat itulah merupakan saat yang paling tepat mengenalkan kepada anak sebuah bentuk komunikasi “bawah sadar” seperti memperlihatkan raut wajah saat anak melakukan hal yang kurang terpuji, memberikan pujian disertai dengan pelukan dan sentuhan saat anak melakukan prestasi, menanamkan nilai-nilai kebaikan dengan membacakan cerita / dogeng di saat anak menjelang tidur,dll.
  • Artinya, jangan jadikan komunikasi orang tua kepada anaknya hanya berupa kata-kata saja. Namun lakukan pembelajaran kepada anak-anak dengan mengenalkan beragam bentuk komunikasi seperti dengan memberikan senyuman (komunikasi secara visual) , sapaan ( komunikasi secara audio), dan tepukan/pelukan (komunikasi kinestetik).

Semoga dengan mengenal komunikasi bawah sadar ini, maka kualitas proses tumbuh kembang anak dapat maksimal, dan orang tua sangat bangga kepada anak-anaknya disaat ia dewasa nanti,

Salam Wisdom Hypnotherapy

Andri Hakim. www.wisdomhypnotherapy.com