Hati-Hati terhadap Pheromon sang Pemikat Alami

pheromon

Jika Sebagian dari Anda masih bingung apa sebenarnya judul diatas, maka Anda persis dengan diri saya yang awalnya bingung, namun akhirnya terpesona dengan kecanggihan efek “zat pheromon” sebagai senyawa kimia alami yang dihasilkan oleh setiap manusia. Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pheromon? ya, pheromon berasal dari istilah  yunani yaitu “phero” dan “mone” artinya “pembawa sensasi”. Pheromon merupakan zat yang kononnya mampu memberikan sensasi “plus” kepada setiap pribadi disekitarnya, artinya zat Pheromon ini dipercaya dapat mempengaruhi “perilaku individu” dan mampu memikat orang disekitarnya. Selain pada manusia, Pheromon juga ada hewan dan tumbuhan yang berguna sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi satu dengan lainnya. Pheromon sendiri identik zat yang bercampur dengan  keringat seseorang.

Istilah “Pheromon” diperkenalkan oleh Peter Karlson dan Martin Luscher pada tahun 1959, Pheromon kadang-kadang diklasifikasikan sebagai “ecto-hormon”. Zat tersebut diteliti sebelumnya oleh berbagai ilmuwan, termasuk Jean-Henri Fabre, Joseph A. Lintner, Adolph Butenandt, dan etolog terkemuka Karl von Frisch yang memanggil zat tersebut dengan berbagai istilah seperti “zat alarm.” Zat Alarm inilah yang bagi vertebrata merupakan bentuk komunikasi yang mampu membedakan mana keluarganya, mana pemimpin dan mana yang dipimpin, dll termasuk kedekatan dan ketertarikan terhadap lawan jenisnya. Seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai hasil riset, maka zat alarm inilah yang juga berefek pada manusia.

Sebenarnya Efek pheromon dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai contoh :

  • Seorang anak yang sangat rindu kepada bapaknya yang sedang pergi ke luar kota hingga membuat anaknya menjadi demam sangking kangennya, dan cara yang paling efektif adalah menyelimuti sang anak dengan baju yang pernah dikenakan oleh bapaknya (begitu juga sebaliknya).
  • Seorang atasan yang tergila-gila kepada bawahannya, bahkan sebaliknya
  • Seorang istri yang sudah hidup serumah dapat dengan mudah mengenali bahwa suaminya selingkuh hanya dari perubahan keringat sang suami karena keringatnya telah tercampur dengan keringat wanita lain.
  • Ada beberapa kasus dimana seseorang langsung jatuh cinta padahal ia belum melakukan komunikasi secara verbal.
  • Seseorang tiba-tiba merasa damai dan nyaman saat bersama seseorang, padahal ia tidak terlalu dekat secara personal, namun kedatangannya mampu memberikan sensasi yang berbeda.
  • Seorang istri yang tidak ingin kehilangan suaminya, walaupun sang suami sudah melakukan tindakan kekerasan yang secara akal logika sang istri tidak akan memperoleh kenyamanan dari suaminya tersebut, dll

Efek aneh tapi nyata itulah yang kita sebut sebagai “efek Pheromon”. Dalam kacamata pikiran bawah sadar maka “efek pheromon” dikenal dengan komunikasi non verbal alias suatu bentuk komunikasi tanpa kata-kata. Namun dikarenakan karakter pheromon setiap orang berbeda-beda maka dapat menghasilkan nuansa yang berbeda pula. Dalam komunikasi bawah sadar dikenal dengan  “bahasa Olfactory”, yaitu teknik yang sangat efektif untuk berkomunikasi kepada seseorang yang memiliki modalitas panca indera penciuman yang sensitif. Artinya selama kita menemukan orang yang memiliki karakter kuat terhadap indera penciuman, maka segera gunakan “bahasa olfactory”.

Menurut saya, perpaduan teknik bahasa olfactory dengan zat pheromon merupakan perpaduan yang sangat luar biasa, artinya efek dahsyat bawah sadar yang dihasilkan sangatlah powerfull, dan hal tersebut dapat diaplikasikan kepada setiap situasi dan kondisi. Mekanisme tersebut kita istilahkan sebagai “ efek daya pikat”. Seseorang yang memiliki zat pheromon yang unik dan mencukupi hanya dengan melakukan komunikasi verbal berbasis olfactory dapat memberikan perubahan perilaku terhadap lingkungan disekelilingnya. Hal itulah yang disikapi oleh berbagai produsen parfum guna melakukan sebuah inovasi luar biasa dengan memberikan nuansa pheromon kepada produk parfum yang dipasarkannya.

Mekanisme zat pheromon yang biasanya dikeluarkan, bercampur dengan keringat terkadang memberikan efek tidak nyaman dikarenakan yang diterima oleh sensor penciuman adalah 2 hal yang berbeda, satu adalah “bau keringat” dan dua adalah “zat pheromonnya”. Namun bau keringat disampaikan kepada sensor otak sebagai hal yang tidak nyaman, dan zat pheromon yang tidak berbau inilah yang selanjutnya dikirim melalui syaraf penciuman ke sistem limbik seseorang dan memberikan sinyal-sinyal pemikat unik dan mampu mempengaruhi perilakunya saat itu..waw…

Oleh karena itu, Zat Pheromon yang telah dikemas kedalam parfum diharapkan dapat memberikan efek daya pikat kepada pribadi disekitar pemakai parfum tersebut tanpa menimbulkan adanya efek yang tidak nyaman, dan hati-hati jika efek ini dikombinasi dengan teknik komunikasi verbal olfactory, dan kemudian saya hanya bisa katakan “ selanjutnya terserah Anda!!!!!”.

Note : Ingin mencicipi pengalaman baru dengan zat pheromon? silahkan berkunjung langsung ke http://dondayspheromones.com

Salam keberuntungan

Andri Hakim.