Fenomena Kesurupan dalam Pemahaman Hipnosis

Fenomena kesurupan sering terjadi di lingkungan kita. Bahkan, belakangan ini, kasus kesurupan—baik massal maupun pribadi— kerap terjadi di lingkungan pabrik, sekolah, tempat kerja, rumah, tempat ritual tertentu, dan lain-lain. Ditinjau dari sudut pandang hipnosis, proses kesurupan merupakan proses perpindahan level kesadaran seseorang dari kesadaran normal ke level kesadaran bawah sadar secara spontan. Berikut ini proses perpindahan kesadaran tersebut.

 

A. Perpindahan Kesadaran Terencana

Berikut ini beberapa contoh sederhana yang dapat menggambarkan perpindahan kesadaran secara terencana.

1. Tidur dan Mimpi.

Aktivitas tidur dan mimpi tentu tidak asing lagi bagi kita. Dalam proses tidur inilah, terjadi pergeseran kesadaran dari pikiran sadar ke pikiran tidak sadar (tidur pulas). Dalam tidur juga dapat terjadi gerakan-gerakan spontan yang tidak kita sadari, misalnya gerakan yang terjadi saat  kita bermimpi.

2. Meditasi.

Pada saat meditasi,perpindahan kesadaran memang direncanakan. Sebelum meditasi, seseorang melakukan persiapan-persiapan tertentu untuk menuju kesuatu titik hening yang memang direncanakan oleh praktisi meditasi.

3. Ritual Tertentu.

Untuk ritual-ritual tertentu, terkadang, seseorang masuk ke dalam kondisi trans, yaitu ketika terjadi luapan-luapan emosi yang disertai dengan gerakan-gerakan fisik tertentu. Sebenarnya, hal itu masih direncanakan, biasanya tokoh ritual telah mempersiapkan langkah-langkah penanggulangannya.

4. Self Hypnosis & Autohypnosis.

Seseorang yang melakukan self hypnosis dan autohypnosis mempersiapkan dirinya untuk memindahkan kesadaran normalnya (normal state)menuju ke kesadaran hipnosis (Alpha/Theta state). Ketika telah berada pada kondisi Alpha/Theta, iabisa saja merasakan emosi-emosi tertentu yang jika tidak terkendali dapat menyebabkan histeris/abreaction.

 

B. Perpindahan Kesadaran secara Spontanitas

Berbeda dengan kondisi terencana, perpindahan kesadaran secara spontan, biasanya terjadi pada saat seseorang secara tiba-tiba merasakan sebuah ”emosi-emosi tertentu”. Hal itu dapat menyebabkan perpindahan kesadaran secara spontanitas.    Fenomena kesurupan massal dapat dijelaskan dengan kondisi ini. Seseorang yang melihat temannya dalam keadaan histeris, meronta-ronta, berteriak-teriak tanpa terkendali sering dapat menginduksi temannya itu. Berikut ini beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya induksi.

 

1. Induksi secara Visual (Penglihatan)

Seseorang yang memiliki tipe visual, dengan tingkat sugestivitas emosional dan fisiknya cukup tinggi, akan sangat mudah dipicu dengan gerakan-gerakan yang ia lihat ketika melihat orang lain dalam keadaan ”kesurupan”. Biasanya, sugestivitas emosional dimiliki oleh kaum perempuan karena perempuan lebih banyak menggunakan penglihatannya (terutama bagi yang suka memperhatikan penampilan). Hal itulah yang menyebabkan kesurupan seperti dapat “menjalar” dari satu orang ke orang yang lain. Dengan demikian, terjadilah ”kesurupan massal”.

2. Induksi secara Audio (Pendengaran)

Seseorang yang memiliki tipe audio, dengan tingkat sugestivitasnya tinggi, akan terpicu dengan suara. Pada saat ia mendengar orang lain histeris, berteriak-teriak, dan marah-marah, orang tersebut akan terinduksi dengan mudah. Akibatnya, secara spontanitas, ia langsung mengikuti temannya seperti berteriak-teriak, histeris, marah-marah, dan lain-lain.

 

3. Induksi secara Kinesthetic (Perasaan)

Seseorang yang memiliki tipe kinestetik, dengan tingkat sugestivitasnya tinggi, akan terinduksi dengan perasaan yang timbul pada dirinya. Ketika seorang temannya terlihat histeris dan berteriak-teriak, timbullah rasa kasihan, simpati, dan bahkan empati. Akibatnya, tanpa sadar, ia telah memasuki level kesadaran Alpha/Theta (bawah sadar) secara spontan. 

Sebenarnya, konflik internal pada diri seseorang dapat terjadi kapan saja, yaitu ketika pikiran dan kondisi kejiwaan dalam keadaan labil, tidak tenang, bermasalah, dan semacamnya. Jika ditinjau, sebenarnya, fenomena kesurupan bermula dari sebuah konflik internal seseorang yang belum pernah terselesaikan. Makin lama, konflik tersebut semakin terpendam di level pikiran bawah sadar hingga suatu waktu (pada saat yang tepat), permasalahan yang terpendam tersebut muncul secara tiba-tiba bagaikan bom waktu.

Hal itu menyebabkan emosi-emosi yang berkaitan dengan permasalahan yang ada juga muncul secara bersamaan (abreaction). Dalam kasus kesurupan, ada berbagai faktor yang menjadi pencetus terjadinya kesurupan.

Sebagai contoh, bagi siswa sekolah, faktor tersebut adalah :

  1. Jam pelajaran yang semakin diperketat,
  2. Hubungan antara guru dan murid yang kurang harmonis,
  3. Tugas dan pekerjaan rumah yang semakin banyak dan semakin memusingkan, atau
  4. Sering terlambat membayar uang sekolah.

Permasalahan itu dapat menjadi pencetus konflik-konflik yang terjadi dalam diri seorang siswa. Jadi, tak heran jika kesurupan massal sering terjadi di lingkungan sekolah.

Begitupula para buruh pabrik yang mengalami kesurupan massal. Buruh pabrik sering memiliki faktor-faktor permasalahan kompleks yang berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh :

  1. Upah buruh yang belum mencukupi kehidupan keluarga,
  2. Tekanan pekerjaan/emosi yang menambah stres,
  3. Tubuh dan pikiran yang lelah akibat rutinitas sehari-hari tanpa adanya rekreasi dan relaksasi, dan sebagainya.

Hal itulah menjadi faktor-faktor kompleks yang menyebabkan terjadinya fenomena kesurupan.

 

Salam Wisdom Hypnotherapy

 

Andri Hakim