Amru Hidayah, Guru Alumni Wisdom Hypnotherapy Surabaya, Mimpi sebagai Sebuah Awal Keberuntungan

harmoni

Hidup adalah sebuah perjalanan, mengalir bagai air yang tidak henti dan tidak juga dapat ditahan. Terjadi meski disukai atau dibenci, semua terjadi dalam garis Ilahi begitu juga perjalanan hidup saya ini.

Tahun 2004 merupakan tahun kesusahan sekaligus keberuntungan saya. Awal tahun itu, saya menjalani ujian skripsi. Hal yang berat, sebab saya berkonsentrasi untuk meneyelesaikannya dalam waktu satu bulan. Setelah itu, dosen pembimbing pergi dan saya harus menghadapi ujian tiga dosen. Saat itu saya pun gagal menyelesaikan revisi skripsi tepat pada waktunya, karena tidak ada biaya. Saya tidak berani meminta dana ke orang tua, karena kondisi ekonomi yang memang sedang berantakan. Alhamdulillah, saya memperoleh program beasiswa untuk melanjutkan semester 10.

Tanggal 17 April 2004, saya memutuskan mengenakan jilbab. Setelah mendapat pertanyaan adik kelas nonmuslim terkait jilbab, hidayah itu dating. Dadaku seakan berontak saat menjelaskan padanya bahwa jilbab adalah kewajiban muslimah. Walhasil, berjilbab menjadi pilihanku.

Namun, hal tersebut tidak merubah keadaanku yang tetap kekurangan. Bahkan, kesulitan keuangan semakin bertambah. Saya menunggak uang kos selama tiga bulan. Biaya revisi skripsi juga tidak ada. Bayangkan, uang untuk beli buku kenangan kampus belum tersedia dan biaya untuk wisuda juga tidak tampak dalam pemikiran. Jangankan hal itu, uang untuk makan saja tidak terpenuhi sehingga makan ikut di rumah murid tes saya, sehari sekali.

Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Saya hanya pasrah dan percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Saya hanya pasrah, hingga suatu hari memutuskan untuk ke Bali membantu ibu kos membuat roti guna mendapatkan uang untuk melunasi semua.  Pada saat saya mempersiapkan diri untuk berangkat ke Bali, tiba-tiba telepon kos saya berdering. Luar biasanya, pihak universitas menginformasikan bahwa proposal penelitianku senilai Rp3 juta akan segera cair. Saat itupula, saya langsung membatalkan kepergian ke Bali dan memilih untuk mengambil dana penelitian untuk melunasi hutang dan biaya wisuda. Sebuah hal yang tidak disangka, akhirnya saya dapat menghadiri wisuda.

Saya sering kali disindir secara halus oleh teman. Katanya, saya adalah seseorang yang hanya bisa bermimpi tanpa action. Ya, jujur saya memang tidak bisa action. Saya hanya bermimpi menjadi orang yang sukses dan membanggakan orang tua. Masih teringat perkataan salah satu temanku, “Mbak Amru ngomong dan mimpi thok… Mbak Amru itu enggak bakal sukses“. Kala itu saya hanya bisa terdiam dan tetap memainkan mimpi.

Ibarat tanaman yang akhirnya berbuah dan musim kemarau panjang yang berakhir dengan hujan. Saya melamar menjadi PNS dan diterima tepat sebulan setelah saya wisuda. Saya bertemu dengan teman tadi, kemudian saya bertanya “Apa kegiatanmu saat ini?“ Teman saya menjawab, “Membantu ibu”. Dan itu adalah jawaban persis yang terus dikatakannya sejak tiga tahun setelah saya selesai wisuda. Mimpi itu gratis dan tidak dipungut bayaran. Siapapun boleh bermimpi, berimajinasi, dan menggapai cita-cita.  Salam keberuntungan.

Leave a Reply